Bagian dari Skripsiku

Kategori: Pengalaman Hidup

Bagi siapapun yang saat ini masih skripsi dan belum lulus-lulus hingga sekarang, saya harap cerita saya ini akan memberikan sedikit inspirasi. Ini cerita tentang kegagalan saya dalam awal-awal mengerjakan skripsi. Namun akhirnya saya mencoba bangkit kembali berkat ibu.

    *ilustrasi

        Mei 2011, saya masih menjalani hidup sebagai seorang mahasiswa. Padahal semenjak Agustus 2010 saya sudah tidak menjalani kuliah satupun. SKS saya sudah cukup, tidak pernah mengulang mata kuliah, dan tinggal menjalani skripsi. Namun kenyataannya, saya cenderung santai-santai saja. Menjalani hidup sebagai seorang “pengangguran”, jarang menyentuh buku, dan kerjaanya hanya main game online saja. Selain itu, tidur pun tidak tentu, makan tergantung kapan lapar, dan kerjaanya hanya main game dan game. Sering sekali ibu saya mengirim sms dan telpon menanyakan “gimana perkembangan skripsimu”, dan saya pernah menjawab “Bu, tenang saja, ini juga baru tiga tahun kan, teman-teman Fajar juga belum ada yang lulus kok”.

            Hidup yang tidak teratur membuat hidup saya kacau. Itu masa-masa tergelap dalam hidup saya. Tapi sampai sekarang saya tidak akan menyalahkan game online. Walaupun bagi saya itu pengalaman buruk yang pernah saya lalui, tapi saya juga harus ingat bahwa game itulah yang menemani saya pada masa-masa itu. Saya juga mendapatkan banyak teman dari bermain game online. Bukan hanya dari Jogja saja tapi juga dari Jakarta, Medan, Makassar, Surabaya, Pontianak, dan lain sebagainya. 

        Pengembang game online itu seperti Tuhan di sini. Jika pemain dirasa sudah bosan dengan permainan ini, maka akan ada update atau tantangan baru. Terus terus dan terus hingga akhirnya game itu bangkrut. Jika game sudah bangkrut, siapa yang paling rugi? Tentunya pemain yang sudah mengeluarkan jutaan rupiah di game itu.

              Mei 2011, saat itu saya masih asik main game online, hp saya bergetar. Oh ternyata dari ibu saya. Ada apa ya pikir saya saat itu. Biasanya saya yang sms ibu saya duluan. Ibu saya bahkan bercerita kalo kadang takut menerima sms dari saya. Ya karena 50% lebih sms yang saya kirim intinya satu, minta uang saku, hehehe.

         Akan tetapi tumben ibu saya sms duluan, ada gerangan apa ini. Saya baca sms beliau pelan-pelan, saya dalami apa yang beliau sampaikan. Sehabis saya membacanya, saya hanya terdiam. Hati saya sakit, sakit sekali. Ini bukan salah ibu pikirku, ini murni kesalahan anak bodohmu. Saat itulah saya merasa inilah titik awal saya, saya harus berubah. Saya harus mengurangi main-main saya. Saatnya mengerjakan skripsi dengan serius. Demi Ibu

Sms Ibu

Fajar apa kabar? Sehat kan? Gimana skripsinya, sudah sampe mana? Kok kamu belum lulus juga ya? Padahal tahun lalu mbamu di masa yang sama sudah wisuda. Apa doa yang ibu kirimkan kurang ya nak? Ibu selalu berdoa untuk skripsimu. Semoga cepat lulus ya”.

 

Jakarta, 26 Maret 2013

Dwi Fajar Novianto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: