Genangan Air Jakarta

Gambar

Pagi ini hujan masih turun. Hanya rintik-rintik hujan saja memang. Namun kenyataannya sudah sanggup membasahi rumput-rumput di tempatku berada saat ini. Mungkinkah ini akibat drainase di sini kurang baik atau adakah seseorang yang iseng membuang air di rerumputan itu. Hmmm atau mungkin bisa jadi  ini akibat hujan deras semalam. Yap semalam hujan turun deras sekali. Tepatnya sekitar satu jam sebelum aku tidur, sekitar pukul 12 malam.

Mataku kemudian memandangi genangan air di rumput-rumput itu. Baru pertama kali kulihat selama satu bulan aku disini, rumput di daerah ini bisa tergenang. Genangan itu lalu kuperhatikan dalam-dalam. Biasanya tidak ada genangan air di sini, namun mengapa hari ini ada? Otakku berfikir, apakah memang semalam hujan turun dengan derasnya sehingga hal-hal yang tidak biasa muncul. Tapi ya sudahlah tidak usah dipikirkan terlalu dalam hal seperti ini. Toh sebentar lagi aku ada ujian, dan itu justru lebih memerlukan konsentrasiku.

Kuseruput kopi hitam yang sedari tadi kupegang. Hmm memang tidak ada yang bisa menandingi kenikmatan kopi hitam di pagi hari. Aromanya yang khas, rasa pahitnya yang menyegarkan ditambah dengan rasa manis gula racikan pabrik memang tiada duanya. Apalagi ditambah eksotisme hujan rintik-rintik dan udara pagi di pinggiran Jakarta ini.

Plak…., tepukan dari temanku di bahuku menyadarkanku agar tidak terlalu menikmati hujan ini. Yah ini saatnya untuk kembali ke kelas dan mempersiapkan ujian. Segera keseruput kopi hitam ini hingga tidak bersisa dan kupandang untuk terakhir kalinya genangan air itu. Yah, saatnya untuk masuk kelas dan mempersiapkan ujian.

12.00 WIB Makan Siang

Sehabis ujian dan pelajaran, pukul 12 siang adalah saatnya memanjakan perut. Roti tawar dan cofee break yang hanya sedikit kumakan tadi pagi sudah saatnya digantikan dengan nasi yang lebih berat. Hmmm bagiku sebenarnya tidak masalah harus makan apa baik pagi, siang, dan malam. Aku bukan penganut makan itu harus nasi, jadi jika bukan nasi maka itu tidak dihitung makan. Karena bagiku, makan apapun asal mengenyangkan itu bisa dapat dikatakan sarapan, makan siang, bahkan makan malam. Tapi apa daya, resto ini hanya menyajikan nasi plus lauk pauk untuk siang ini. Jadilah makan siangku hari ini nasi, ayam, dan sayur-sayuran.

Kupilih tempat duduk yang terdapat temanku di situ. Sambil makan kami tentu saja mengobrol. Obrolan kami sederhana saja, tentang banjir di Jakarta pagi ini. Tentang bagaimana banjir menggenangi kantor pusat perusahaan kami. Tentang bagaimana banjir merata terjadi di Jakarta, dan menyebabkan macet total dimana-mana. Yah aku hanya bisa mendengarkan mereka. Hanya sesekali ikut menyeletuk jika topik pembicaraannya aku paham. Apa boleh buat, aku belum satu tahun tinggal di Jakarta. Orang-orang Jakarta di depanku ini pasti jauh lebih mengerti soal dunia perbanjiran di Jakarta dibandingkan aku.

* ringtone hp berbunyi*

Kulihat dari namanya, ini adalah telpon dari ibuku. Segera kuangkat telpon dari ibuku, walaupun aku sedang berjalan mengambil air minum. Aku selalu berusaha untuk secepatnya mengangkat telpon dari ibuku jika beliau telpon. Dan akan mendengarkan apa yang beliau katakan tanpa pernah kupotong. Bahkan aku juga tidak akan mengatakan “sudah dulu ya bu” jika memang tidak ada keperluan sangat mendesak sehingga aku harus menyudahi pembicaraan ini. Mengapa? Karena beliau adalah perempuan paling aku sayangi di dunia ini.

Pelan-pelan kudengarkan suara ibuku, dan mencoba memahami apa yang hendak beliau katakan. Lalu akhirnya tibalah disuatu pertanyaan yang sedang aku bahas dengan teman-temanku tadi di meja makan.

“Mas, Jakarta banjir besar ya? Kalo di tempat kamu banjir juga ga mas? Hati-hati ya, jangan kemana-mana dulu”.

Hmm kuhela nafas sebentar. Ingatanku kembali ke peristiwa tadi pagi saat aku menikmati rintik-rintik hujan. Dengan lembut kujawab pertanyaan ibuku.

Ibu tenang saja, di Ragunan tidak banjir kok. Tenang nggih bu. Dari tadi pagi di sini aman-aman aja kok bu. Hanya ada genangan air aja kok. Itu saja Fajar liat tadi, saat  rintik-rintik hujan di pagi hari”.

Jakarta, 17 Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: