Jadi Jurnalis Bukan Karena Bisa Nulis

Saya memilih untuk bergabung dengan surat kabar mahasiswa sebagai wartawan bukan karena saya pintar menulis namun justru karena saat itu saya tidak bisa menulis. Terlalu sering berbicara di depan umum kadang membuat orang lupa cara menulis. Orang-orang seperti ini kadang bingung bagaimana awal dalam membuat tulisan, merangkai kata, dan membingkai kata dalam halaman yang sedikit. Kenapa? Karena  tulisan beda dengan ucapan. Tulisan dibatasi halaman.

 

Gambar

 

Satu tahun saya menjadi jurnalis dan begitu banyak pengalaman juga ilmu yang saya dapat di sana. Ternyata susah juga untuk menuliskan secara jelas sebuah peristiwa hanya dalam 500 kata saja. Beda dengan bicara, anda bisa menghabiskan berjam-jam untuk mengobrol dan presentasi.  

Ada banyak pengalaman yang saya dapat saat jadi jurnalis. Dari bertemu banyak orang kampus, mahasiswa, orang luar kampus, komunitas unik, hingga ditilang polisi saat hendak wawancara narasumber. Hahaha…

Banyak pengalaman yang saya ingin ceritakan mengenai saat masih di sana. Mungkin nanti saat saya sedang punya waktu banyak sehingga saya bisa menulis lebih leluasa.

Saat ini saya juga terus belajar menulis sekaligus mengajak banyak orang untuk ikut menulis. Jangan sampai kita sangat mudah untuk bercerita namun ketika diminta menulis akan menjawab “ eit nanti dulu”.

 Ragunan, 10 Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: