Istory Senayan – Kisah sial anak muda dalam perjalanan pertamanya kesana part 4 (habis)

Niat pengen seneng-seneng di hari Sabtu berakhir dengan kesialan berturut-turut. Cerita ini sudah memasuki episode terakhir dan saya sedang menertawakan diri saya sendiri. Butuh keberanian untuk menertawakan diri kita sendiri ketika selama ini justru kita sering menertawakan orang lain. Jika kamu sedang merasa sial, ingatlah bahwa di belahan dunia lain banyak orang yang sedang mengalami kesialan juga, bahkan lebih parah.

Gambar

Sesudah bertemu teman dan isi perut terlebih dahulu, maka kami berniat untuk masuk ke Istora. Sepanjang jalan kami mengobrol, saling mengejek, namun dalam suasana tetap santai. Saat hendak masuk ke dalam Istora, baru sadar ternyata tiket masuk kami berbeda. Saya di tribun VIP barat, sedangkan teman saya di tribun VIP timur. @#@$@%@^@$@^

Mas masa saya gak bisa bareng temen saya masuknya. Ngapain nonton di sini sendirian.”

Mas penjaga pintu berfikir bentar. Entah apa yang dipikirkannya. hehehe… Lalu akhirnya terdengar suara keluar dari mulutnya.

Ya dah mas, karena di tribun ini sudah agak penuh. Mas ke tribun yang satunya aja”

Mendapat jawaban seperti itu saya memutuskan untuk jalan ke arah tribun timur. Masih agak dag-dig dug, jangan-jangan ditolak masuk lagi. “Duh masa nonton sendiri-sendiri”  pikirku.

Namun akhirnya alhamdulilah bisa diijinkan masuk juga. hehehe. Pertandinganpun dimulai, dari b-boys battle, rap battle, final LA Light Streetball, dancer, dll. Semuanya cenderung biasa saja, karena pikiran saya sudah ingin menonton pertandingan streetball pemain asing. Bahkan atraksi akrobatik dari Dunkin Devil juga belum menghibur saya secara puas. Saya hanya ingin nonton pertandingan And1 vs Ball Up saja.

Akhirnya setelah ditunggu-tunggu datang juga berbagai streetball dari luar negeri di Indonesia. Dari Pat da Rock, Professor, Easy J, Werm, dsb. Total ada lebih dari 15 streetball luar negeri siap bertarung untuk pertama kalinya di Indonesia.

Saya mengharapkan bakal  banyak trik-trik stretball di pertandingan ini. Lalu tipuan-tipuan, dunk yang gokil, dan lain sebagainya. Namun apa yang terjadi, pertandingan justru seperti pertandingan basket konvensional. Mungkin karena ada nama tim yang mereka bela, maka permainan menjadi serius. Hanya sesekali dunk keluar dari tim Ball Up. Ya Tuhan, kok malah gini pertandingan ini. Biasanya saya tidak pernah menonton Grand Final LA Lights Streetball, hanya nonton di open run-nya saja. Ini kebetulan  saja nonton karenasekarang tinggal dekat Jakarta . Tapi  yang terjadi malah agak kecewa. Lebih kecewa lagi, belum selesai acara, teman saya pamit pulang dulu mengantarkan pacarnya. Jadilah saya sendiri di dalam Istora menonton hingga akhir pertandingan.

Perjalanan Pulang

Selesai acara saya langsung pulang. Gak kepikiran untuk minta foto atau tanda tangan dengan bintang streetball di sana. Mending pulang saja deh menurut saya. Tapi tentunya bukan pulang ke Bekasi. Sudah terlalu malam menurut saya. Mending nginap di kos teman.

Jalan sebentar ke arah depan Istora, nunggu taksi yang jelas biar diantarkan ke arah kos teman saya. Begitu nemu taksi segera minta diantar ke alamat temen saya di daerah Kemang Raya.

Bang, ke arah Kemang Raya yang bang. Tapi kalo bisa mampir ke Sevel dulu bang mau beli makan dulu, yang searah tapi ya”

” Baik pak.” jawab pak supir

Kendaraanpun berjalan dengan lancar. Melewati berbagai gedung-gedung dan tempat. Namun pikiran saya mulai terganggu ketika melewati jl Setiabudi, Bundaran Indonesia, dan melihat Grand Indonesia. Namun saya masih berfikiran positif bahwa mungkin si abang taksi ini mau mencari jalan lain yang tidak macet.

Taksi kemudian berhenti sebentar di Sevel. Saya turun dan membeli makanan, walaupun saya juga bertanya-tanya daerah mana ini. Beli makan dan minum di sana, dan kemudian cabut lagi. Beberapa saat kemudian, abang supir berkata ” mas sudah hampir sampai. Ini sudah di Tomang”. Pikir saya dalam hati, ” Bang, kemang bang kemang” “@#@$@%%@$@%@$@%@%”

Saya kemudiaan berkata ” Lah saya minta dianterin ke Kemang Raya bang, bukan Tomang. Ya Sudahlah putar balik aja bang”.

Abang taksi hanya diam, tidak bilang apa-apa. Kemudian jalan putar balik ke arah Kemang. Melihat kembali Grand Indonesia, Bundaran Indonesia, dan tentunya melewati Istora Senayan kembali itu rasanya sesuatu. @#@$@%@%@^@

Saya bahkan tidak melihat penyesalan, ungkapan maaf, atau perasaan bersalah dari abang taksi ini. Sepanjang perjalanan hanya diam, diam, dan diam. Saya pikir ini bukan langkah yang baik dari kelakuan seorang supir taksi dan tentunya merugikan image perusahaan. Pikir saya saat itu, ya sudahlah saya catat saja dululah no pintu, nama sopir, dan no plat taksinya.

Begitu sampai di tempat teman saya, saya ingin mengetes si abang taksi ini. ” Bang, ini saya harus bayar berapa?”. Si abang hanya menjawab singkat, “ya sesuai yang di argo mas”. Segera saya keluarkan uang 80-an ribu untuk membayar ongkos taksi saya dari Istora Senayan-Semanggi-GI-Tomang-GI-Semanggi-istora-Blok M-Kemang. Biaya yang biasanya hanya sekitar 30-an ribu melonjak menjadi 80-an ribu karena kesalahan abang taksi. hahaha

Pengalaman sial berturut-turut yang saya dapat di hari sabtu. Ya memang sial, tapi ini pengalaman. Seengaknya ada pengalaman buruk untuk diceritakan. Hahaha. Ngomong-ngomong anda juga sepertinya sedang sial membaca tulisan ini. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: