Mengapa Public Relations Identik Dengan Pekerjaan Perempuan?

Gambar

Kategori: Ilmu Komunikasi

Ada hal yang menarik ketika suatu hari saya mengikuti sebuah mata kuliah di salah satu universitas di Yogyakarta. Ada seorang teman bertanya kepada dosen mata kuliah tersebut, “mba, kenapa sih public relations (PR) itu harus cantik?”. Suatu pertanyaan yang tidak langsung membuat saya berfikir tentang jawaban pertanyaan itu tapi lebih cenderung “mempertanyakan” pertanyaannya? “Mengapa harus ada kata “cantik”? apakah itu menandakan dunia PR hanya untuk wanita saja, laki-laki tidak berhak menempati posisi itu. Walaupun harus saya akui saat ini dunia PR didominasi oleh perempuan tapi tentu saja tidak bisa jadi alasan memakai kata cantik.

Saat itu sang dosen mengatakan kepada sang mahasiswa, “kalo kamu jadi customer yang bermasalah dan kamu bertemu PRnya, lebih senang bertemu PR yang berpenampilan cantik dan menarik atau yang berpenampilan asal-asalan.” Secara rasional tentunya kita akan lebih senang bertemu PR yang menarik.

Namun ternyata tidak hanya alasan itu saja, mengapa dunia PR lebih didominasi perempuan. Dalam otak manusia ternyata terdapat perbedaan antara otak laki-laki dan perempuan. Dalam otak kita ada bagian yang bernama corpus callosum. Bagian ini yang dimiliki perempuan lebih tebal dibandingkan laki-laiki. Efeknya tidak membuat laki-laki lebih cerdas dibandingkan perempuan atau sebaliknya namun lebih cenderung pada pola berfikir. Laki-laki umumnya akan bersikap rasional sedangkan perempuan cenderung lebih menggunakan rasionalitas ditambah emosionalitas. Dalam dunia PR, memahami customer tidak hanya membutuhkan rasionalitas saja, namun juga membutuhkan kemampuan untuk membangun emosional yang bagus dengan customer. Perempuan mempunyai kemampuan untuk membentuk empati dan simpati sekaligus memahami sisi emosi dari customer yang bermasalah.

Selain itu untuk menjadi seorang PR setidaknya dibutuhkan dua buah kecerdasan, yaitu kecedasan verbal (dalam bidang tulis menulis) dan kecerdasan interpersonal (bagaimana menjalin hubungan dengan orang lain). Kecenderungan perempuan yang sejak kecil umumnya lebih sering berbicara merupakan sebuah kebiasaan yang nantinya akan ikut mendukung pekerjaan sebagai seorang PR. Jika anda perhatikan sejak kecil seorang anak perempuan akan lebih cenderung suka berbicara dibanding anak laki-laki. Efek yang paling nyata adalah pembendaharaan kata mereka umumnya akan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Pintar memainkan kata, tempo,kalimat adalah sebuah hal yang penting dalam usaha lobi maupun dalam kegiatan yang berhubungan dengan dunia kePRan. Perempuan umumnya akan lebih pintar memainkan kata, karena pembendaharaan kata yang lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Pembendaharaan kata yang luas dapat terbukti jika seseorang terkena stroke. Laki-laki akan kesulitan untuk mengembalikan pola bicaranya saat pemulihan pasca stroke, hal itu berbeda dengan perempuan yang lebih cepat…

Lalu jika ada pertanyaan tentang kepala humas di perusahaan besar atau BUMN yang banyak didominasi laki-laki maka ada kecenderungan itu mutasi jabatan. Beberapa perusahaan menerapkan batas kerja di satu posisi dalam beberapa tahun saja. Begitu sudah menjalani posisi tersebut dalam tahun yang ditentukan mereka harus pindah ke bagian yang lain. Bagian Humas bisa menjadi salah satu contoh posisi yang dipertukarkan.

Apakah berarti laki-laki akan susah bersaing dengan perempuan dalam “pertarungan” memperebutkan jabatan public relation di berbagai perusahaan? Wallahu Allam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: